DAFTAR ISI

BAB I 1

PENDAHULUAN.. 1

Latar Belakang. 1

Tujuan. 2

BAB II 2

PEMBAHASAN.. 2

Pengertian. 2

Hukum Suntik Bagi Orang Puasa. 3

Pendapat Para Ulama’ 3

Suntikan di siang hari Ramadan ada dua macam: 3

BAB III 5

PENUTUP. 5

KESIMPULAN.. 5

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Puasa merupakan salah satu dari rukun islam, kita sebagai umat muslim wajib menjalankan puasa tersebut. Ramadhan merupakan bulan dimana kita harus dapat mengendalikan diri kita,hal yang utama yang harus kita lakukan dalam pelaksanaan puasa ramadhan adalah kita harus menjadi penguasa dan raja bagi diri kita sendiri kita harus benar-benar mengendalikan menurut aturan Ilahi yang berlaku.

Para ulama’ terdahulu dalam buku – bukunya (karya – karyanya) sangatlah bagus sekali mengenai ijtihad, tetapi kemudian diulang kembali lagi oleh para ulama’ sekarang tanpa ada penilitian dan analisa secara lebih serius lagi. Begitu juga mengenai tema yang saya angkat yaitu yang berjudul hukum suntik bagi orang puasa, mengenai hal ini masih banyak umat islam yang kebingungan dalam menghdapi persoalan tersebut. Maka dari itu saya lebih sepakat dengan pendapat para ulama’ yang berpendapat bahwa pintu ijtihad sebaiknya ditutup saja karena mengingat ketakutan kita bahkan para pemerintah dari adanya kebebasan berpendapat mengenai ijtihad tersebut, serta mengingat keabsahan bahkan kesempurnaan ibadah puasa Ramadhan kita.

Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah yang berjudul hukum suntik bagi orang puasa yaitu:

1)      Tujuannya untuk mengetahui pengertian dari puasa itu sendiri.

2)      Tujuannya untuk mengetahui hukum suntik bagi orang yang sedang menjalankan ibadah puasa.

3)      Tujuannya untuk mengetahui pendapat – pendapat para ulama’ mengenai hukum suntik bagi orang puasa.

 

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian

Puasa adalah menahan diri dari hawa nafsu, lapar dan dahaga dari terbitnya matahari himgga menjelang terbenamnya matahari atau waktu maghrib tiba.

Berpuasa pada bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun dari beberapa rukun agama. Kewajiban melaksanakannya tidak membutuhkan dalil, karena ia seperti shalat, yaitu di tetapkan dengan keharusan. Dan ketetapan itu diketahui dengan baik oleh yang bodoh maupu yang ‘alim dewasa maupun yang anak – anak.

Puasa mulai diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah . puasa merupakan fardhu ‘ain bagi setiap mukallaf dan seorang pun yang di perbolehkan berbuka, kecuali mempunyai sebab – sebab sebagai berikut:

  1. Haid dan nifas

Para ulama’ sepakat bahwa bila seorang wania haid atau nifas dianggap puasanya tidak sah.

  1. Sakit

Dalam persoalan ini para ulama’ berbeda pendapat antara hukum puasanya sah dan tidak sah.

Hukum Suntik Bagi Orang Puasa

Hukum suntik bagi orang yang sedang berpuasa baik puasa di bulan Ramadhan maupun puasa bukan di bulan Ramadhan adalah sangatlah di  perbolehkan bahkan hukumnya tidak batal puasanya, yang dapat membatalkan puasa adalah apabila orang yang sedang puasa melakukan suntikan yaitu berupa nutrisi bagi kesehatan tubuh orang tersebut dan hukumnya tidak di perbolehkan.

Pendapat Para Ulama’

Puasa wajib boleh ditinggalkan karena sakit atau menyebabkan sakit.Adapun hukum suntik bagi orang yang berpuasa, maka boleh jika dalam keadaan darurat. Namun ulama’ berbeda pendapat dalam masalah suntik membatalkan puasa atau tidak?
a. Pendapat pertama : Membatalkan secara mutlak. Karena sampai ke dalam tubuh.

b. Pendapat kedua   : Tidak membatalkan secara mutlak. Karena sampainya ke dalam tubuh bukan melalui lubang yang terbukaPendapat

c. ketiga : diperinci sebagai berikut :

  •  Jika suntikan tersebut berisi suplemen, sebagai pengganti makanan atau penambah vitamin, maka membatalkan puasa. Karena ia membawa makanan yang dibutuhkan ke dalam tubuh.
  •  Jika tidak mengandung suplemen (hanya berisi obat), maka diperinci :
    a. Apabila disuntikkan lewat pembuluh darah maka membatalkan puasa.
    b. Disuntikkan lewat urat-urat yang tidak berongga maka tidak membatalkan  puasa.

Suntikan di siang hari Ramadan ada dua macam:

  1. Suntikan nutrisi (infus), yang bisa menggantikan makanan dan minuman. Suntikan semacam ini membatalkan puasa karena dinilai seperti makan atau minum.
  2. Suntikan selain nutrisi, seperti: suntik obat atau pengambilan sampel darah. Suntikan semacam ini tidak membatalkan dan tidak memengaruhi puasa, baik suntikan ini diberikan di lengan atau di pembuluh. Hanya saja, jika memungkinkan, sebaiknya suntikan ini dilakukan di malam hari, dan itu lebih baik, sebagai bentuk kehati-hatian ketika puasa.

Syekh Abdul Aziz bin Baz

Pernah ditanya tentang hukum suntikan di pembuluh atau lengan pada siang hari di bulan Ramadan; apakah membatalkan puasa? Jawaban beliau, “Puasanya sah, karena suntikan di pembuluh tidaklah termasuk makan atau minum. Demikian pula suntikan di lengan, lebih tidak membatalkan lagi. Akan tetapi, andaikan dia mengqadha puasanya dalam rangka kehati-hatian maka itu lebih baik. Jika hal ini diakhirkan sampai malam ketika butuh maka itu lebih baik dan lebih berhati-hati, dalam rangka keluar dari perselisihan pendapat dalam masalah ini.”

Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Pernah ditanya tentang hukum menggunakan jarum suntik di urat maupun di pembuluh. Beliau menjawab, “Suntikan jarum di pembuluh, lengan, maupun paha diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa, karena suntikan tidaklah termasuk pembatal dan juga tidak bisa disamakan dengan pembatal puasa. Sebabnya, suntikan bukanlah termasuk makan dan minum, juga tidak bisa disamakan dengan makan dan minum …. Yang bisa membatalkan puasa adalah suntikan untuk orang sakit yang menggantikan makan dan minum (infus).”

Lajnah Daimah (Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiah dan Fatwa)

Pernah ditanya tentang hukum berobat dengan disuntik saat siang hari Ramadan, baik untuk pengobatan maupun untuk nutrisi. Mereka menjawab, “Boleh berobat dengan disuntik di lengan atau urat, bagi orang yang puasa di siang hari Ramadan. Namun, orang yang sedang berpuasa tidak boleh diberi suntikan nutrisi (infus) di siang hari Ramadan karena ini sama saja dengan makan atau minum. Oleh sebab itu, pemberian suntikan infus disamakan dengan pembatal puasa Ramadan. Kemudian, jika memungkinkan untuk melakukan suntik lengan atau pembuluh darah di malam hari maka itu lebih baik.” (Fatawa Lajnah, 10:252)

 

BAB III

PENUTUP

 KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah yang berjudul hukum suntik bagi orang puasa diatas  dapat kita ketahui bahwa puasa adalah menahan diri dari hawa nafsu, lapar dan dahaga dari terbitnya matahari hingga menjelang terbenamnya matahari atau waktu maghrib tiba.

Hukum suntik bagi orang yang sedang berpuasa baik puasa di bulan Ramadhan maupun puasa bukan di bulan Ramadhan adalah sangatlah di  perbolehkan bahkan hukumnya tidak batal puasanya, yang dapat membatalkan puasa adalah apabila orang yang sedang puasa melakukan suntikan yaitu berupa nutrisi bahkan vitamin bagi kesehatan tubuh orang tersebut dan hukumnya tidak di perbolehkan atau tidak sah hukum dapi puasa tersebut.

 


Category: Uncategorized

About the Author


Comments are closed.